Acceptability Daily Intake.. PENTING!!! Agar anda jadi Konsumen yang Cerdas..

https://www.pexels.com/photo/anise-aroma-art-bazaar-277253/

Seiring berkembangnya teknologi pengolahan makanan, tentu kita tidak dapat menghindari penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) dalam suatu produk. Beberapa orang mengatakan bahwa bahan tambahan pangan itu tidak sehat, berpotensi menimbulkan penyakit di masa depan. Lalu, mengapa bahan tambahan pangan masih digunakan? Apakah ini hanya persoalan bisnis semata? Sebagai konsumen yang cerdas, kita harus bisa menilai.. jangan terlalu skeptis.. karena akan merepotkan diri sendiri, tidak bisa makan makanan enak? Betul kan?

Pertanyaan selanjutnya ialah bagaimana kita menilai? Sedangkan, produk pangan yang dijual di pasaran cenderung tidak memberikan keterangan yang informatif mengenai resiko BTP yang mereka gunakan. Kecenderungan mereka ialah membuat label dengan tulisan yang sangaaattttt  kecil sekali, sehingga membuat kita abai. Yah.. maklum saja, produsen kan ingin produknya laku.. (kalau bisa sebanyak-banyaknyaa… biar bisnis lancar bosss.. hehe..)

Di Indonesia, terdapat sebuah Lembaga yang bertugas untuk memberikan panduan bagi produsen maupun konsumen mengenai penggunaan BTP. Lembaga tersebut ialah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Panduan ini sudah dengan sangat gampang dicari di Internet. Link nya ialah sebagai berikut: http://jdih.pom.go.id/showpdf.php?u=KZaFgvQCDoKcuMbSXTQEKXIsK9gg62vHuMI4dVHHVU0%3D . Di dalam website tersebut kita akan menemukan berbagai jenis BTP, batas maksimum penggunaanya pada produk, serta Acceptability Daily Intake (ADI).

Apa Itu ADI?

ADI merupakan jumlah maksimum BTP yang dapat dikonsumsi setiap hari tanpa menimbulkan efek berbahaya bagi kesehatan. ADI biasanya ditampilkan dalam satuan mg/kg berat badan. Bagaimana konsep ADI ini bisa muncul? Terdapat sebuah artikel menarik yang dibuat oleh Profesor Truhaut pada tahun 1991 dan dimuat pada Jurnal Food Additives & Contaminants. Di dalam artikel ini, dijelaskan bahwa konsep ADI bermula pada tahun 1950 an ketika Profesor Truhaut dan koleganya yang tergabung dalam JECFA (Joint FAO/WHO Expert Commitiees on Food Additives) dan JMPR (Pesticide Residues), membahas mengenai efek toksisitas dari residu pestisida pada tanaman pangan. Awalnya, mereka mengira bahwa menguji efek toksisitasnya pada hewan coba sudah cukup. Namun, ternyata informasi mengenai konsumsi rata-rata pangan tersebut pada setiap individu di setiap daerah (negara) tidak kalah penting. Untuk itu, mereka menyimpulkan bahwa perlu adanya konsep yang dapat menjadi jembatan antara ekstrapolasi data toksisitas dari hewan coba dengan rata-rata pengulangan konsumsi pada setiap individu manusia. Konsep itu akhirnya diberi nama ADI yang dinyatakan dalam mg/kg berat badan.

Bagaimana Cara Menghitung ADI?

Ada yang tidak tahu Natrium Benzoat?? Hampir semua orang kenal dengan nama zat pengawet ini. Hingga telah menjadi trademark bahwa “Apapun makanannya, pengawetnya pasti Benzoat” hehehehe..

Kenal saja tidak cukup, tahukah anda berapa ADI dari Natrium Benzoat??

ADI dari Natrium Benzoat ialah 0-5 mg/ kg Berat Badan. Artinya, jika anda punya berat badan 55 kg, maka anda hanya boleh maksimum “terpapar” 275 mg (0.275 g) Natrium Benzoat per harinya.

Pertanyaanya ialah… Darimana Anda tahu makanan/minuman anda mengandung Natrium Benzoat atau Tidak? Dan Berapa Jumlahnya??

Untuk menjawab pertanyaan ini, maka anda perlu memiliki mata yang sehat dan jeli, sehingga dapat membaca komposisi yang tertera pada label produk makanan/minuman. Permasalahan berikutnya: di informasi komposisi tidak terdapat jumlah Natrium Benzoat yang ditambahkan. Secara logika, perusahaan tidak mungkin mencantumkannya, karena sama saja dengan membongkar resep rahasia mereka. Kita bisa memprediksi penambahannya dengan mengasumsikan penambahan maksimal Natrium Benzoat yang diizinkan oleh BPOM. Untuk produk sari buah misalnya, penambahan maksimumnya ialah 600 mg/kg berat total produknya. Sehingga, apabila kita punya Sari Buah dengan kemasan 200 mL (asumsi massa jenis air), maka terdapat maksimum 120 mg Benzoat per kemasan. Dengan nilai ADI 275 mg, maka per harinya hanya boleh mengkonsumsi maksimum 2 kemasan minuman sari buah tersebut.

Itu baru sari buah, bagaimana dengan makanan/minuman lain yang mengandung Benzoat? Hmm.. jika ingin sehat emang harus sedikit repot ya.. hehehe….

Referensi:

BPOM RI. 2013. Perka BPOM No 36 Tahun 2013. http://jdih.pom.go.id/showpdf.php?u=KZaFgvQCDoKcuMbSXTQEKXIsK9gg62vHuMI4dVHHVU0%3D

R. Truhaut .1991. The concept of the acceptable daily intake: An historical Review. Food Additives & Contaminants. 8:2, 151-162, DOI: 10.1080/02652039109373965

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*