ASUPAN VITAMIN C DARI BUAH DAN SAYUR VS SUPLEMEN KOMERSIAL, MANAKAH YANG LEBIH BAIK?

(Shvets, 2020; Doan, 2018)

Di masa pandemi seperti sekarang, istilah vitamin dan sistem imun hangat diperbincangkan. Vitamin menjadi produk yang sering dicari dan dikonsumsi oleh sebagian besar orang, baik dalam bentuk makanan maupun dalam bentuk suplemen komersial. Konsumsi vitamin sering dihubungkan dengan menjaga imunitas tubuh. Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan vitamin? Vitamin merupakan komponen organik yang diperlukan oleh tubuh dalam jumlah kecil, namun memiliki peran yang penting dalam reaksi-reaksi biokimia seperti pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh. Vitamin ini umumnya tidak diproduksi sendiri oleh tubuh, sehingga perlu diperoleh melalui konsumsi dari luar (Siswanto et al., 2013).

Salah satu vitamin yang sering dikonsumsi sebagai penjaga imunitas tubuh yaitu vitamin C. Vitamin C adalah vitamin yang berperan penting dalam perbaikan jaringan dan proses metabolisme tubuh. Fungsi vitamin C dalam menjaga daya tahan tubuh yaitu sebagai antioksidan yang membantu dalam menetralisir radikal bebas. Vitamin C mudah mendonorkan elektron ke radikal bebas sehingga sel-sel termasuk sel imun terlindung dari kerusakan akibat radikal bebas (Siswanto et al., 2013). Selain itu, vitamin C juga dapat menjaga kekebalan tubuh dengan merangsang produksi interferon, protein yang melindungi sel-sel terhadap serangan virus, sehingga kerusakan sel oleh virus dapat dihalangi oleh adanya protein tersebut.

Tanda Tubuh Kekurangan Vitamin C

Beberapa tanda kekurangan asupan vitamin C yaitu rambut kering dan bercabang; kulit bersisik, kering, dan kasar; gusi mudah radang dan berdarah; infeksi berulang, mimisan berulang; pembengkakan sendi; anemia; dan gigi mudah keropos (Hasanah, 2018). Tanda-tanda kekurangan vitamin tersebut patut diwaspadai, khususnya dimasa pandemi seperti sekarang. Hal tersebut terkait dengan pentingnya menjaga sel imun dari radikal bebas oleh vitamin C agar tidak mudah terserang penyakit lainnya. Konsumsi vitamin C dapat diperoleh dari makanan seperti buah dan sayur yang tinggi vitamin C maupun dikonsumsi langsung dari suplemen komersial yang banyak dijual di pasaran. Lalu, manakah sumber vitamin C yang lebih baik dikonsumsi?

Penurunan Kadar Vitamin C pada Sumber Alami

Banyak dari kita yang sering berpikir bahwa produk obat komersial merupakan produk yang tidak lebih baik dari produk alami, sehingga lebih memilih produk segar untuk dikonsumsi, termasuk sebagai sumber vitamin C. Perlu diketahui bahwa vitamin C ini memiliki sifat yang mudah rusak dan kurang stabil. Penanganan yang tidak tepat pada buah dan sayur dapat menyebabkan vitamin C yang terkandung di dalamnya mengalami penurunan dan bahkan hilang. Vitamin C mudah mengalami kerusakan oleh beberapa faktor yaitu pemanasan, oksidasi oleh udara, cara pengolahan, penyimpanan dan pembekuan (Andarwulan dan Koswara, 1992).

  • Pemanasan

Pemanasan buah dan sayur dapat menyebabkan vitamin C menurun dan bahkan hilang. Pada produk buah dan sayur yang mengalami pemanasan atau penyeduhan dapat menurunkan kandungan vitamin C yang ada di dalamnya, oleh karena itu dianjurkan untuk mengonsumsi buah dan sayur secara langsung atau dikonsumsi dalam keadaan dingin.

  • Oksidasi oleh Udara

Vitamin C dapat mengalami kerusakan akibat oksidasi oleh udara. Buah dan sayur sumber vitamin C perlu disimpan dengan baik dengan meminimalisir adanya kontak dengan udara, khususnya untuk buah yang sudah dikupas atau dipotong.

  • Cara Pengolahan

Konsumsi vitamin C dari sumber buah dan sayur yang diolah perlu diperhatikan. Pemanasan dan oksidasi oleh udara selama pengolahan perlu diperhatikan agar tidak terjadi kerusakan dan penurunan vitamin C dalam makanan. Proses pemanasan dan pengolahan minimal dapat dilakukan untuk produk buah dan sayur tertentu.

  • Lama Penyimpanan

Penyimpanan yang terlalu lama terhadap produk buah dan sayur tinggi vitamin C dapat menyebabkan penurunan kandungannya. Hal tersebut karena semakin lama penyimpanan, semakin lama juga produk buah dan sayur terpapar udara, terutama pada suhu kamar, sehingga akan terjadi oksidasi dan degradasi vitamin C.

  • Pembekuan

Vitamin C memang menjadi lebih stabil pada suhu rendah, namun vitamin tersebut dapat mengalami kerusakan pada penyimpanan suhu ekstrim seperti pembekuan. Vitamin C dapat rusak akibat pembekuan pada suhu dibawah -18 °C.

Vitamin C dalam Bentuk Suplemen

Vitamin C lebih stabil dalam kondisi kering, sedangkan dalam bentuk larutan akan mudah teroksidasi, apalagi pada suasana basa. Oleh karena itu, umumnya produk vitamin C komersial berbentuk tablet, tablet kunyah, kapsul, dan tablet effervescent yang dilarutkan dalam air dingin. Vitamin C tersebut telah diolah hingga menjadi produk yang stabil dan kering sehingga kandungannya tidak banyak terdegradasi, sehingga asupan vitamin yang dibutuhkan konsumen dapat terpenuhi secara maksimal. Kebutuhan vitamin C harian tidak terlalu banyak, yaitu hanya sebesar 75 mg dan 90 mg untuk masing-masing perempuan dan laki-laki dewasa. Konsumsi suplemen yang mengandung 500 mg vitamin C cukup untuk memenuhi kebutuhan harian vitamin C. Vitamin C ini tergolong vitamin yang larut air, sehingga kelebihan konsumsi vitamin C dalam tubuh dapat dibuang keluar tubuh melalui urin, sehingga tidak khawatir akan menyebabkan keracunan dalam tubuh (Triana, 2006).

Kesimpulan

Konsumsi vitamin C dari buah dan sayur bisa dilakukan asalkan buah atau sayur sumber vitamin diolah secara minimal agar tidak terjadi kerusakan vitamin C, atau dapat juga dikonsumsi segar. Sumber vitamin C alami dapat diperoleh dari buah jeruk (termasuk lemon dan jeruk nipis), kiwi, paprika, brokoli, melon, kentang dan tomat (Paramita, 2020). Konsumsi suplemen vitamin C juga dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan harian agar lebih praktis. Produk vitamin C yang dijual di pasaran sudah dikondisikan agar tidak banyak mengalami penurunan kandungan vitamin C, sehingga kandungannya sesuai dengan kebutuhan konsumen. Silahkan tentukan sendiri sumber asupan vitamin C yang diinginkan, namun tetap ketahui cara konsumsi dan penyimpanan terbaik agar manfaat yang diperoleh tetap optimal.

REFERENSI

Andarwulan, N. dan S. Koswara. 1992. Kimia Vitamin. Rajawali Press, Jakarta.

Doan, T. 2018. Aneka Irisan Buah. Diakses dari https://www.pexels.com/id-id/foto/aneka-irisan-buah-1128678/ pada 9 Agustus 2021.

Hasanah, U. 2018. Penentuan Kadar Vitamin C pada Mangga Kweni dengan Menggunakan Metode Iodometri. Jurnal Keluarga Sehat Sejahtera, 16(1): 90-96.

Paramita, S. 2020. Sumber Makanan Kaya Vitamin C dan E untuk Penatalaksanaan COVID-19. Diakses dari https://sinta.ristekbrin.go.id/covid/penelitian/detail/329 pada 9 Agustus 2021.

Siswanto, Budisetyawati, dan F. Ernawati. 2013. Peran Beberapa Zat Gizi Mikro dalam Sistem Imunitas. Jurnal Gizi Indonesia, 36(1): 57-64.

Svhets, A. 2020. Pil Obat Terisolasi dengan Latar Belakang Kuning. Diakses dari https://www.pexels.com/id-id/foto/pil-obat-terisolasi-dengan-latar-belakang-kuning-3683098/ pada 9 Agustus 2021.

Triana, V. 2006. Macam-macam Vitamin dan Fungsinya dalam Tubuh Manusia. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 1(1): 40-47.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*